The Last Ravencrest — Prologue

 Hujan turun sejak pagi.

Tidak deras, hanya rintik-rintik kecil yang membasahi jalanan berbatu dan atap-atap rumah di sepanjang wilayah Ravencrest.

Sebuah kereta berhenti di depan bangunan tua yang berdiri sedikit jauh dari pemukiman. Cat pada dindingnya mulai mengelupas. Beberapa bagian atap tampak baru diperbaiki, sementara halaman depannya berubah menjadi tanah basah setelah diguyur hujan berjam-jam.

Pintu kereta terbuka.

Seorang perempuan turun dengan sebuah buku terselip di bawah lengannya.

Gaun hitam panjang yang dikenakannya terlalu sederhana untuk seorang bangsawan. Hanya sebuah sigil kecil berbentuk gagak yang tersemat di dada kirinya yang menunjukkan bahwa perempuan itu berasal dari keluarga Ravencrest.

Seorang pengurus panti segera berlari menyambutnya.

"Lady Ravencrest."

Perempuan itu mengangguk kecil.

"Bagaimana persediaan obat?"

Tidak ada sapaan panjang ataupun basa-basi.

Pengurus itu tampaknya sudah terbiasa.

"Masih cukup untuk beberapa minggu. Bantuan yang Lady kirimkan bulan lalu juga sudah kami terima."

"Makanan?"

"Cukup."

"Pakaian musim dingin?"

"Kami masih kekurangan beberapa untuk anak-anak yang baru datang."

Perempuan itu membuka buku kecil yang dibawanya dan mencatat sesuatu.

"Jumlahnya?"

"Sebelas."

"Ukurannya?"

Pengurus itu terdiam sejenak.

"...Saya akan membuat daftarnya."

"Berikan sebelum aku pulang."

"Baik, Lady."

Ia menutup bukunya.

Perang telah berlangsung cukup lama hingga kedatangan anak-anak baru tidak lagi menjadi sesuatu yang mengejutkan.

Beberapa kamar bahkan tidak memiliki cukup tempat tidur. Kasur tambahan diletakkan di lantai, sementara sebuah ruangan yang dahulu digunakan sebagai gudang telah diubah menjadi kamar tidur.

Perempuan itu tidak mengatakan apa pun mengenai keadaan tersebut.

Ia hanya berjalan dari satu ruangan ke ruangan lainnya, mencatat apa yang kurang dan sesekali berhenti ketika salah seorang pengurus menjelaskan sesuatu.

Beberapa anak mengenalinya.

"Lady Ravencrest!"

Seorang anak perempuan kecil berlari menghampirinya.

Perempuan itu berhenti.

Anak itu menunjukkan sebuah boneka kain dengan salah satu lengannya yang baru dijahit.

"Lihat! Sudah sembuh!"

"...Begitu."

"Aku yang menjahitnya sendiri!"

Perempuan itu menatap jahitan yang tidak beraturan itu beberapa saat.

"Buruk."

Senyum anak itu langsung menghilang.

"Tapi lebih baik daripada sebelumnya."

Anak itu kembali tersenyum lebar.

Perempuan tersebut melanjutkan langkahnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Pengurus yang berjalan di belakangnya hanya menahan tawa.

Namun langkahnya berhenti ketika suara gaduh terdengar dari halaman belakang.

"Dasar anak terkutuk."

Suara anak-anak.

Ia menoleh.

Di bawah sebuah pohon yang hampir kehilangan seluruh daunnya, tiga anak berdiri mengelilingi seorang bocah.

Bocah itu terduduk di tanah.

Pakaiannya kotor oleh lumpur.

Salah seorang anak mendorong bahunya.

Ia jatuh.

Tidak ada perlawanan.

Tidak ada tangisan.

Bocah itu hanya menundukkan kepala.

"Sudah kubilang jangan dekat-dekat dengan kami."

Anak lainnya menarik tangan kirinya.

Bocah itu mencoba menariknya kembali, tetapi terlambat.

Lengan bajunya tersingkap.

Ada sebuah tanda kecil pada punggung tangannya.

Beberapa garis hitam tipis membentuk pola yang tidak beraturan. Terlalu terstruktur untuk disebut tanda lahir, tetapi terlalu sederhana untuk menyerupai lingkaran sihir.

"Crest terkutuk."

Anak itu melepaskan tangannya seolah baru menyentuh sesuatu yang menjijikkan.

Perempuan tersebut menyipitkan mata.

"...Crest?"

Ia berjalan mendekat.

Salah seorang anak akhirnya menyadari keberadaannya.

"Lady—"

Ketiganya segera menjauh.

Perempuan itu tidak memarahi mereka.

Tatapannya sudah tertuju pada bocah yang masih berada di tanah.

Ia berjongkok.

"Perlihatkan tanganmu."

Bocah itu tidak bergerak.

"Hei."

Perlahan, ia mengangkat wajahnya.

Mata itu kosong.

Bukan ketakutan.

Bukan pula kemarahan.

Seolah apa pun yang baru saja terjadi tidak cukup berarti baginya untuk menimbulkan salah satunya.

Perempuan itu mengulurkan tangan.

"Berikan."

Bocah tersebut menurut.

Jari-jarinya menggenggam pergelangan kecil itu dan membalik telapak tangannya.

Ia memperhatikan tanda tersebut dalam diam.

Tidak ada simbol yang dikenalnya.

Tidak ada pola runic yang pernah ia temui.

Bahkan setelah bertahun-tahun membaca catatan mengenai sihir kuno, perempuan itu tidak dapat menghubungkannya dengan satu sistem mana pun.

Menarik.

Ia menutup mata.

Mana mengalir perlahan menuju penglihatannya.

Ketika matanya kembali terbuka, dunia di sekitarnya berubah.

Setiap manusia memiliki sesuatu yang tidak dapat dilihat mata biasa.

Aura.

Sebagian besar tenang. Warna dan bentuknya berubah mengikuti kondisi tubuh, mana, serta emosi pemiliknya.

Sebulan terakhir, ia telah menghabiskan hampir setiap malam mengamati perubahan pada satu aura tertentu.

Aura seseorang yang seharusnya telah mati.

Seseorang yang telah ia paksa untuk tetap hidup.

Dua minggu pertama adalah neraka.

Demam tinggi.

Mana yang terus runtuh.

Napas yang beberapa kali berhenti.

Namun semuanya telah berlalu.

Sekarang orang itu dapat berjalan kembali.

Makan.

Mengeluh.

Bahkan kembali mengganggunya ketika sedang membaca.

Eksperimen itu berhasil.

Setidaknya...

itulah yang ia yakini.

Karena itu ia tahu seperti apa aura yang rusak.

Dan apa yang berada di hadapannya sekarang bukanlah itu.

Perempuan tersebut terdiam.

Ada dua.

Cahaya tipis menyelimuti tubuh bocah tersebut.

Hangat.

Tenang.

Namun tepat di baliknya terdapat sesuatu yang lain.

Gelap.

Pekat.

Keduanya tidak menyatu.

Tidak pula saling meniadakan.

Mereka bertabrakan.

Terus-menerus.

Seolah dua hal yang seharusnya tidak mungkin berada dalam satu tubuh dipaksa hidup berdampingan sejak anak itu dilahirkan.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di tempat itu, ekspresi perempuan tersebut berubah.

Matanya sedikit melebar.

"...Apa ini?"

Bocah itu tidak menjawab.

Tentu saja.

Pertanyaan itu bukan untuknya.

Perempuan tersebut melepaskan tangannya dan berdiri.

"Siapa anak ini?"

Pengurus panti yang sejak tadi memperhatikan mereka mendekat.

"Kami tidak tahu banyak tentangnya, Lady."

"Orang tuanya?"

"Tidak diketahui."

"Tempat lahir?"

"Tidak diketahui."

"Catatan keluarga?"

"Tidak ada."

Perempuan itu menatapnya.

Pengurus tersebut menjadi sedikit gugup.

"Dia ditemukan di depan panti sekitar enam tahun lalu. Saat itu dia masih bayi."

"Dan Crest itu?"

"Sudah ada."

Tatapan perempuan itu kembali jatuh pada tangan kecil tersebut.

"Sejak bayi?"

"Ya."

"Apakah pernah berubah?"

"Tidak sejauh yang kami tahu."

"Bereaksi terhadap mana?"

"Kami tidak pernah mengujinya."

Perempuan itu terdiam.

Semakin banyak pertanyaan yang diajukan, semakin sedikit jawaban yang didapatnya.

Aneh.

Sangat aneh.

Dan ia membenci sesuatu yang tidak dapat dijelaskan.

"Anak-anak memanggilnya terkutuk," lanjut pengurus itu pelan. "Beberapa penduduk juga mengatakan tanda seperti itu membawa kemalangan. Kami sudah berusaha menghentikan mereka, tetapi—"

"Atas dasar apa?"

"...Lady?"

"Atas dasar apa mereka menyebutnya kutukan?"

Pengurus itu kehilangan kata-kata.

Perempuan tersebut kembali melihat Crest itu.

"Tidak ada catatan mengenai asalnya. Tidak ada yang mengetahui fungsinya. Tidak ada yang pernah menelitinya."

Ia berhenti.

"Lalu mereka memutuskan bahwa itu kutukan."

Nada suaranya tetap datar.

Tetapi ada sedikit rasa tidak suka di sana.

Bocah itu masih duduk di tanah.

Perempuan tersebut kembali berjongkok di hadapannya.

"Siapa namamu?"

Beberapa detik berlalu.

"...Elian."

Suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan.

"Elian."

Perempuan itu mengulanginya.

Tidak ada nama keluarga.

Tidak mengejutkan.

"Berapa usiamu?"

"...Enam."

"Kau tahu apa tanda ini?"

Elian menggeleng.

"Apakah pernah sakit?"

Gelengan lagi.

"Terasa panas?"

Tidak.

"Bereaksi ketika kau menggunakan sihir?"

Bocah itu akhirnya berbicara.

"...Aku tidak bisa menggunakan sihir."

Perempuan tersebut memperhatikan wajahnya cukup lama hingga Elian mulai menundukkan kepala lagi.

Kemudian ia berdiri.

"Siapkan barang-barangnya."

Pengurus panti berkedip.

"...Maaf?"

"Bocah ini."

Perempuan itu membersihkan sedikit lumpur yang menempel pada sarung tangannya.

"Aku akan membawanya."

Pengurus tersebut tampak membutuhkan beberapa saat untuk memahami kalimat itu.

"Lady bermaksud..."

"Mengadopsinya."

Elian mengangkat kepala.

Untuk pertama kalinya, kekosongan pada matanya berubah.

Sedikit.

Hanya sedikit.

Kebingungan.

"Lady, apakah Anda yakin? Mengenai Crest-nya—"

"Justru karena itu."

Jawabannya datang tanpa keraguan.

Ia kembali memandang bocah tersebut.

Crest yang tidak tercatat dalam buku mana pun.

Dua aura yang seharusnya tidak mungkin hidup berdampingan.

Seorang anak tanpa keluarga, tanpa riwayat, dan tanpa seorang pun yang dapat menjelaskan dari mana semua itu berasal.

Terlalu banyak pertanyaan.

Dan Astrid von Ravencrest tidak pernah pandai meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban.

"Lady Astrid..."

Pengurus itu masih terlihat ragu.

Nama itu membuat Elian kembali menatap perempuan di hadapannya.

Astrid mengulurkan tangan.

"Berdiri."

Elian memandang tangan itu.

Lalu wajahnya.

Beberapa detik berlalu sebelum tangan kecilnya perlahan menerima uluran tersebut.

Astrid menariknya berdiri.

"Mulai hari ini, kau akan tinggal di kediaman Ravencrest."

Elian tidak menjawab.

Ia hanya menggenggam tangan perempuan asing yang baru ditemuinya.

Bagi Astrid, hari itu ia menemukan sebuah anomali.

Sebuah Crest yang tidak dikenal.

Sebuah fenomena yang tidak dapat dijelaskan oleh teori mana pun yang pernah dipelajarinya.

Sebuah subjek yang mungkin memberinya jawaban mengenai sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang selama ini ia pahami.

Ia belum mengetahui bahwa suatu hari nanti ia akan berhenti menuliskan kata subjek di samping nama anak itu.

Ia belum mengetahui bahwa tangan kecil yang kini berada dalam genggamannya akan tumbuh cukup besar untuk menggenggam sebilah pedang.

Dan ia belum mengetahui bahwa bertahun-tahun kemudian, di bawah cahaya bulan merah, tangan yang sama akan menjadi tangan terakhir yang ia minta untuk mengakhiri hidupnya.

Hari itu, ia hanya mengetahui satu hal.

Anak itu menarik.

Dan itu sudah cukup bagi Astrid von Ravencrest untuk membawanya pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The First Step