Chapter 1 — The Unanswered Question
ARC I — THE PURSUIT OF TRUTH
CHAPTER 1 — THE UNANSWERED QUESTION
Pagi datang bersama bunyi lonceng dari menara utama Royal Academy.
Kabut tipis masih menggantung di antara bangunan-bangunan batu. Para siswa mulai memenuhi koridor, sebagian berjalan menuju ruang kuliah, sementara yang lain berkumpul di dekat jendela untuk membicarakan ujian yang akan datang.
Di antara mereka, seorang gadis berusia lima belas tahun berjalan dengan sebuah buku tebal di tangannya.
Astrid von Ravencrest.
Ia berhenti di depan papan pengumuman.
Sebuah lembaran baru tertempel di sana.
Advanced Magical Theory — Restricted Lecture
Astrid membaca judulnya, lalu mengalihkan pandangan ke keterangan di bawahnya.
Materi: hubungan antara mana, struktur kehidupan, dan manifestasi spiritual.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Tangannya meraih pena dari saku seragam. Pada selembar kertas kecil, ia mencatat jadwal kuliah serta nomor ruangannya.
Setelah selesai, Astrid membuka buku yang dibawanya. Ia membalik beberapa halaman hingga menemukan sebuah diagram yang menggambarkan aliran mana di dalam tubuh manusia.
Tatapannya berpindah dari diagram itu ke pengumuman.
Beberapa saat kemudian, buku tersebut kembali tertutup.
“Astrid?”
Ia menoleh.
Seorang gadis berambut terang menghampirinya dari ujung koridor.
Cecilia.
“Kau sudah membaca pengumuman itu?”
Astrid mengangguk.
“Ya.”
“Katanya materinya cukup sulit. Bahkan kakak tingkatku bilang dosennya suka memberikan pertanyaan yang tidak ada di buku pelajaran.”
“Bagus.”
Cecilia mengerjap.
“Bagian mana yang bagus?”
“Kalau jawabannya sudah ada di buku, aku tidak perlu menghadiri kuliahnya.”
Cecilia terdiam sesaat, lalu tertawa kecil.
“Kau memang aneh.”
Astrid tidak menanggapi. Ia memasukkan kembali pena ke saku dan melanjutkan langkah.
Cecilia segera menyusulnya.
“Mau ke mana?”
“Perpustakaan.”
“Lagi?”
“Ada yang perlu kucari.”
Cecilia melirik buku di tangan Astrid.
“Masih tentang teori mana?”
Astrid mengangguk.
“Bagian mana yang belum kau pahami?”
“Hubungan antara mana dan jaringan hidup.”
Cecilia mengernyitkan dahi.
“Bukankah mana mengalir di dalam tubuh dan digunakan untuk menghasilkan sihir?”
“Itu salah satu fungsinya.”
“Lalu apa masalahnya?”
Astrid berhenti berjalan.
“Buku pelajaran menyebutkan bahwa aliran mana dipengaruhi oleh struktur biologis. Namun, buku yang lain menyatakan bahwa paparan mana dalam jumlah tertentu dapat mengubah struktur tersebut.”
Cecilia memandangnya, menunggu kelanjutan penjelasan.
Astrid melanjutkan, “Kalau keduanya benar, mana memengaruhi tubuh, sementara tubuh juga memengaruhi mana. Tetapi tidak ada penjelasan yang memadai tentang bagaimana hubungan itu bekerja.”
Cecilia terdiam beberapa detik.
“Jadi, kau mempermasalahkan urutannya?”
“Bukan urutannya. Mekanismenya.”
“Oh.”
Cecilia mengangguk pelan, meskipun ekspresinya menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya memahami persoalan tersebut.
“Kalau begitu, semoga kau menemukan jawabannya.”
Astrid kembali berjalan.
“Aku akan mencarinya.”
“Baiklah. Aku ikut.”
Astrid menoleh kepadanya.
“Untuk apa?”
“Membaca.”
“Kau tidak harus ikut denganku.”
“Aku tahu.”
Cecilia tersenyum, lalu berjalan mendahuluinya.
Astrid tidak mengatakan apa-apa lagi.
---
Perpustakaan Royal Academy belum terlalu ramai ketika mereka tiba.
Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, menerangi deretan meja kayu dan rak-rak yang memenuhi ruangan. Seorang pustakawan duduk di balik meja peminjaman, sibuk memeriksa beberapa lembar catatan.
Astrid langsung menuju bagian teori sihir.
Ia menyusuri rak dengan pandangan teliti, membaca label yang tertera pada setiap bagian.
Mana Theory.
Magical Physiology.
Arcane Biology.
Ia berhenti di depan rak terakhir.
Sebuah buku bersampul cokelat ditarik dari tempatnya. Astrid membuka daftar isi, memeriksa beberapa judul, lalu mengembalikannya.
Buku berikutnya mengalami nasib serupa.
Pada buku ketiga, tangannya berhenti di sebuah judul.
Interaction Between Mana and Living Matter.
Astrid membawa buku itu ke meja.
Cecilia sudah duduk di sana dengan sebuah novel tipis di tangannya.
“Kau menemukan yang dicari?”
“Sepertinya.”
Astrid duduk dan membuka buku tersebut.
Halaman demi halaman dibacanya dengan saksama. Sesekali ia berhenti untuk membandingkan penjelasan di dalamnya dengan catatan dari buku pelajaran.
Beberapa menit berlalu.
Cecilia membalik halaman novelnya.
Astrid mengambil pena.
Pada selembar kertas, ia menulis:
Jika mana memengaruhi struktur kehidupan, sementara struktur kehidupan juga menentukan aliran mana, apa yang memulai perubahan tersebut?
Ia membaca kembali kalimatnya.
Kemudian menambahkan satu pertanyaan di bawahnya.
Apakah mana dapat berubah tanpa dipengaruhi oleh struktur yang menampungnya?
Astrid membuka kembali buku referensi itu dan mencari bagian yang berkaitan dengan pertanyaan kedua.
Ia menemukan beberapa penjelasan tentang perubahan aliran mana akibat lingkungan, tetapi tidak satu pun membahas persoalan yang sedang dicarinya secara langsung.
Ujung penanya mengetuk kertas sekali.
Lalu ia melanjutkan membaca.
“Kau sudah menemukan jawabannya?”
Suara Cecilia membuat Astrid mengangkat kepala.
“Belum.”
“Sudah berapa buku?”
“Tiga.”
Cecilia melirik tumpukan buku di sebelahnya.
“Dan kau masih mau mencari lagi?”
Astrid menutup salah satu buku, kemudian menarik buku lain dari tumpukan.
“Yang ini belum kubaca.”
Cecilia menghela napas kecil.
“Kadang-kadang aku bertanya-tanya bagaimana isi kepalamu.”
Astrid membuka halaman pertama buku yang baru diambilnya.
“Penuh tulisan.”
Cecilia menatapnya sesaat sebelum tertawa.
“Kau sengaja, ya?”
Astrid tidak menjawab.
Ia sudah kembali membaca.
Lonceng kedua berbunyi dari menara utama.
Beberapa siswa di dalam perpustakaan mulai membereskan barang-barang mereka. Cecilia menutup novelnya dan berdiri, sementara Astrid masih memeriksa halaman terakhir yang terbuka di hadapannya.
“Astrid. Kelas.”
Astrid melihat jam dinding.
Ia menandai halaman yang sedang dibaca, menutup buku, lalu mengumpulkan catatannya.
Cecilia menunggu di dekat pintu.
Sebelum meninggalkan meja, Astrid memandang kembali dua pertanyaan yang ditulisnya.
Ia melipat kertas itu dan menyimpannya di dalam buku catatan.
Kemudian berjalan menyusul Cecilia.
Mereka meninggalkan perpustakaan ketika koridor mulai dipenuhi siswa yang bergegas menuju ruang kuliah.
Astrid berjalan dengan buku di tangannya.
Pertanyaannya masih belum terjawab.
Komentar
Posting Komentar